Home Berita Sepakbola Andik Vermansah Terjebak Cinta & Profesionalisme

Andik Vermansah Terjebak Cinta & Profesionalisme

827
0
Andik Vermansyah

Tekanan psikologi sangat tinggi dirasakan Andik Vermansah kala harus berhadapan dengan klub yang dicintainya.

BERITA TERKINI – 3 April 2019 menjadi momen yang sulit dihapus dari ingatan Andik Vermansah. Ya, untuk kali pertama penggawa Madura United ini menghadapi klub kesayangan dan dicintainya sejak kecil, Persebaya Surabaya, di Stadion Gelora Bung Tomo.

Andik belum pernah berhadapan dengan Persebaya sejak kisruh sepakbola nasional yang memaksa dirinya mencari peruntungan di Malaysia. Andik meninggalkan Persebaya akibat sanksi yang diterima Persebaya, karena bergabung dengan Liga Primer Indonesia (LPI) pada 2011, kompetisi yang tak diakui PSSI.

Tidak heran jika pertandingan leg pertama semi-final Piala Presiden 2019 antara Persebaya dan Madura United menjadi laga sarat emosi bagi Andik. Perasaan campur aduk sudah terpancar dari wajahnya ketika Laskar Sape Kerrab melakukan pemanasan.

“Pertemuan ini adalah momen tersulit bagi saya setelah enam tahun tidak bermain di Surabaya, dan sejak adanya dualisme yang membuat saya pergi merantau,” tulis Andik melalui akun Instagram pribadinya.

Andik tidak bisa menyembunyikan rasa galau dan tegang itu. Bahkan ketika pemain Madura United mulai melakukan pemanasan, Andik lebih ‘disibukkan’ memberikan penghormatan kepada Bonek sambil menepuk dada kirinya, dan juga menyampaikan isyarat permintaan maaf. Perlahan rasa galau dan tegang mulai mencair setelah mendapati sambutan positif dari Bonek.

Momen paling sulit akhirnya tiba di menit ke-56 saat pelatih Dejan Antonic memintanya masuk menggantikan David Laly. Tampak rasa canggung yang amat besar menggelayuti wajahnya.

Sejak masuk ke lapangan, pemuda yang sempat menjadi pedagang asongan di sekitar stadion ketika Persebaya bertanding ini terlihat emosional, dan sering mengabaikan kerja sama tim selagi teriakan ‘boo’ di penjuru stadion membahana saat dirinya membawa bola. Sebuah beban mental yang sangat tinggi dirasakan pemuda kelahiran Jember itu.

Tak pelak atmosfer yang tercipta di stadion memengaruhi performa Andik. Pada menit ke-69, Andik mendapatkan peluang emas setelah menerima umpan panjang Zulfiandi, dan hanya berhadapan dengan kiper Miswar Saputra. Namun tembakannya tidak menemukan sasaran di gawang yang sudah kosong. Tidak ada ekspresi senang yang ditunjukkannya. Wajahnya begitu datar.

Beban psikologis itu akhirnya pecah ketika Andik bergabung dengan pemain Persebaya untuk menyanyikan Song for Pride di akhir laga. Sepanjang lagu dinyanyikan, Andik menutup wajah dengan kedua tangannya berusaha mencegah air mata keluar. Pemain berusia 27 tahun ini mendapat pelukan hangat seorang sahabat dari Otavio Dutra.

“Susah diungkapkan dengan kata-kata, memang sangat berat bagi saya. Tapi kembali lagi, saya harus profesional. Saya tetap menjalani tanggung jawab sebagai pemain Madura,” ungkap Andik.

“Saya sudah mencoba [tidak menangis]. Sejak saya berangkat dari rumah, berdoa semoga tidak menangis. Tetapi ternyata saya tidak kuat, hati saya tidak bisa dibohongi.”

Momen yang menguras emosi sangat besar tersebut tidak akan terulang lagi di Liga 1 2019. Sejak awal bergabung dengan Madura United, Andik telah meminta ada klausul tidak bermain melawan Persebaya di kompetisi kasta tertinggi di Indonesia ini. Bahkan Andik rela pensiun dini bila ia tetap dimainkan.

“Saya akui, saya pemain amatir. Profesional saya kalah dengan hati saya. Tapi ini pramusim, bukan liga. Kalau saya nantinya di liga masih main, saya akan pensiun. Catat, kalau seandainya saya ingkar,” ungkap Andik melalui akun Instagram pribadinya.

“Cintailah tim kebanggaan kalian, karena tidak ada nama yang lebih besar selain tim kebanggaan kalian.”

Cinta selalu hadir dari loyalitas luar biasa seorang pemain. Tetapi profesionalitas adalah bentuk lain dari sebuah cinta kepada klub yang tengah dibelanya. Tidak melakukan selebrasi saat mencetak gol merupakan salah satu bentuk profesionalitas saat hati tak sanggup melawan.

Di lain sisi, cinta terkadang menutup logika. Tapi keputusan Andik menjadi salah satu cara lain menunjukkan hal tersebut. Sikapi keputusan Andik tersebut dengan bijak. Seperti pesannya sebelum laga, tidak ada nama yang lebih besar daripada nama klub itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here