Home Berita Sepakbola Ibrahimovic Katakan Juventus Buat Dia Jadi Mesin

Ibrahimovic Katakan Juventus Buat Dia Jadi Mesin

253
0
Ibrahimovic Katakan Juventus Buat Dia Jadi Mesin
Zlatan Ibrahimovic

Reputasi sebagai striker mematikan ternyata didapat Ibrahimovic ketika menjalani kiprah bersama Bianconeri.

BERITA TERKINI – Zlatan Ibrahimovic meyakini bahwa Juventus telah membuatnya menjadi seperti sebuah mesin yang membawanya terus berkembang dalam perjalanan karier.

Sang legenda hidup Swedia bergabung dengan Bianconeri dari Ajax Amsterdam pada 2004 silam, namun awalnya ia lebih dikenal sebagai pemain yang gemar unjuk kebolehan ketimbang tajam dalam membobol gawang lawan.

Ibrahimovic pun mengakui reputasinya sebagai bomber berubah berkat polesan pelatih Fabio Capello yang saat itu membesut raksasa Serie A Italia tersebut.

“Pada mulanya, di mana saya tumbuh semuanya bukan soal mencetak gol, melainkan soal siapa yang punya kemampuan, teknik terbaik dan saya bawa itu ke mana pun saya pergi,” ungkap Ibrahimovic kepada BBC Sport.

“Lalu itu berubah ketika saya datang ke Juventus. Saya di Ajax bermain lebih cantik, saya mendapatkan tekanan juga di sana tapi segalanya adalah soal mencetak gol ketika di Italia, bersama dengan Capello.”

“Segalanya terasa baru bagi saya. Juventus seperti, ‘Wow, klub besar, banyak pemain besar, pelatih besar, sejarah besar. Sepakbola Italia, Serie A. Wow’.”

“Kala itu sepakbola Italia berada paling atas, dan saya tahu untuk bertahan di sana saya butuh bekerja keras. Namun saya merasa saya berada di sana untuk sebuah alasan, saya ada karena saya bagus.”

“Dari hari pertama berlatih saya mendengar Capello berteriak ‘Ibra!’ – itu merupakan asal mula nama panggilan saya. [Luciano] Moggi] tak tahu bagaimana cara menyebut nama saya jadi hanya ‘Ibra..ee.. Ibra!’. Kemudian semuanya mulai memanggil saya Ibra,” kenangnya.

“Dan Capello menunjuk asistennya, Italo [Galbiati]. Ia telah menangani para pemain dari akademi dan tim muda, dan saya berlatih bersama mereka. Mereka memberikan umpan-umpan dan saya mencetak gol, setiap hari selama 30 menit.”

“Terkadang saya hanya ingin pulang ke rumah karena saya merasa lelah dan tak ingin lagi menendang bola, saya tak ingin lagi melihat gawang atau kiper. Saya mencoba untuk pulang lebih awal tapi mendengar ‘Ibra!’ dan seketika saya langsung tahu maksudnya. Saya kembali menendang dan menendang, tendangan baik mau pun buruk.”

“Pada akhirnya saya menjadi sebuah mesin, di depan gawang dan mencetak gol, terumata di Italia di mana striker adalah posisi yang paling sulit karena secara taktik mereka sangat bagus dan saat itu mereka punya banyak bek kelas dunia.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here