Home Berita Sepakbola Ini Dia Aib Bersejarah Real Madrid

Ini Dia Aib Bersejarah Real Madrid

1306
0
Real Madrid vs Ajax

Tersingkir adalah hal yang lumrah, tapi tersingkir secara tragis, tentu akan menjadi sejarah kelam. Real Madrid harus menerima kenyataan pahit ini.

BERITA TERKINI – “Semua kerajaan tidak lebih dari kekuatan dalam kepercayaan.” Demikian kutipan masyhur dari seorang penyair Inggris, John Dryden.

Kerajaan yang dibangun Real Madrid di belantika sepakbola Eropa akhirnya runtuh jua. Runtuh oleh secercah kepercayaan yang dibawa oleh prajurit dari Amsterdam, Ajax.

Ketersingkiran dalam sebuah turnamen profesional adalah hal yang lumrah, karena memang pilihannya hanya ada dua: menang atau kalah, juara atau jadi pecundang. Namun di balik sebuah hasil akhir, terkadang sarat akan nilai historis.

Setelah menguasai tahta Eropa selama 1.000 hari, sang raja dipaksa turun dengan tidak terhormat, bahkan boleh dibilang tragis. Meski tak bisa pula dikatakan anak bawang di kancah Eropa, Ajax dengan mengandalkan pemain-pemain berbakatnya, sebetulnya sudah legowo dikudahitamkan saat berjumpa Madrid dengan komposisi pemain-pemain mewahnya di babak 16 besar. Skenario dan prediksi tampak berjalan pada treknya ketika Los Blancos mencuri dua gol tandang dalam kemenangan 2-1 di Belanda. Di atas kertas, raksasa ibu kota Spanyol tak menemui aral berarti.

Real Madrid

Malang, pelatih Santiago Solari agaknya amnesia. Santiago Bernabeu mulai jauh dari kesan angker, setidaknya dalam tiga partai terakhir. Tak tanggung-tanggung, berturut-turut publik Bernabeu dibuat senyap menyaksikan tim kesayangan mereka bertekuk lutut kala tumbang dari Girona 2-1, termasuk dua episode terakhir el Clasico kontra Barcelona yang berakhir kekalahan 3-0 dan 1-0.

Tren negatif di atas mungkin bisa ditutup ketika menyambut de Godenzonen, sekalian hitung-hitung pelampiasan atas dua kekalahan memalukan dari Barca. Nahas, sekaligus mencengangkan, Ajax justru membuat Madrid menderita empat kekalahan beruntun di Bernabeu usai meraup kemenangan telak, 4-1. Ya, 4-1, kekalahan telak yang hampir jarang dipetik Madrid di rumah sendiri kalau bukan bentrok dengan Barca. Sergio Ramos absen karena skorsing, bek berpengalaman Marcelo dicadangkan, Gareth Bale disimpan untuk babak kedua, entah skema apa yang dirancang Santiago Solari kala meladeni laga ini.

Dua kreasi Dusan Tadic memfasilitasi dua gol pertama Ajax lewat aksi cemerlang Hakim Ziyech dan David Neres sebelum nama pertama turut mendonasi gol yang membawa raksasa Eredivisie ini unggul telak 3-0.

Madrid sempat menyalakan asa kala Marco Asensio memperkecil ketinggalan di menit ke-70. Namun, saat agregat beselisih tipis, tendangan bebas indah Lasse Schone dua menit berselang membuat game over bagi tuan rumah. Agregat akhir, 5-3. Ajax berjaya!

Real Madrid vs Ajax

Selepas laga, headline berbagai media sepakbola sepakat menulis kata “memalukan”. Memalukan bagi Madrid, bahkan kalau boleh sedikit sadis, ketersingkiran ini adalah aib bersejarah bagi seluruh pihak yang berada di bawah naungan bendera el Real. Dalam sejarah, mereka tek pernah gugur di putaran kedua Liga Champions dengan marjin kebobolan yang demikian besar kala tampil di kandang sendiri.

Tak terlintas di pikiran Madridistas gawang tim kesayangan mereka bakal dipecundangi empat kali oleh tim sekelas Ajax. Status la Decimotercera dengan torehan 13 trofi Liga Champions merupakan bukti sahih betapa hegemoni Madrid tak terbantahkan di Benua Biru, tak terkecuali rezim Zinedine Zidane yang sanggup mempersembahkan tiga trofi Liga Champions berturut-turut. Tentu bila dibandingkan dengan profil Ajax di masa kini, komparasi kedua tim berbeda level. Era keemasan Ajax bersama Jari Litmanen cs sudah usang, yakni di musim 1994/95. Sejak itu, Ajax tak lebih dari tim semenjana di pentas Eropa.

Namun kini, Erik ten Hag bisa merevisi target mereka di Liga Champions musim ini. Menendang tim kaliber Madrid jelas akan memompa spirit dan kepercayaan diri tim. Belum lagi, performa heroik Tadic yang mengemas satu gol dan dua assist –membuat dia total mengemas 26 gol di seluruh kompetisi dalam musim debutnya di Ajax– untuk mengangkangi Madrid, bisa menjadi kartu As bagi si juru taktik untuk optimistis melaju jauh di sisa turnamen musim ini. Syukur-syukur Ajax bisa mengulangi supremasi di musim 1994/95.

Santiago Solari

Sementara itu, para pemangku kuasa di kubu Madrid boleh jadi tengah menyingsingkan lengan baju mereka, bersiap untuk kembali mengotak-atik kursi panas yang diduduki Solari. Tampak sulit pria Argentina ini dipertahankan mengingat Madrid dibawanya terjun bebas sejak mengisi kursi yang ditinggalkan Julen Lopetegui. Alih-alih mengangkat kembali tim ke permukaan setelah babak belur di bawah eks pelatih timnas Spanyol itu, nyatanya Solari tak bagus-bagus amat.

Sempat melaju kencang dengan mendulang empat kemenangan konsekutif yang berujung pada ganjaran penunjukan sebagai pelatih kepala dari status caretaker, Solari pada perkembangannya tak mampu menghadirkan hasil konsisten untuk tim.

Tak ada lagi prestasi yang bisa diukir Solari. Di La Liga Spanyol, anak-anak Solari yang berada di posisi ketiga tertinggal 12 poin dari Barca selaku pemuncak klasemen, Copa del Rey sudah sirna setelah Los Blancos disingkirkan tim yang sama, dan termutakhir, mereka dieliminasi secara memalukan oleh Ajax. Yang lebih menyesakkan lagi, mencuat fakta bahwa Madrid tersingkir di dua kompetisi terakhir hanya dalam rentang tujuh hari!

Akhirnya, era emas Madrid di Eropa runtuh. Namun akan meninggalkan luka yang mendalam lantaran runtuh dengan mengerikan. Andai kekalahan ini dipetik di partai final, kepala mereka masih bisa mendongak. Tak lazim rasanya melihat raja Eropa lengser prematur di perdelapan-final, fase yang selalu bisa mereka lalui dalam sembilan tahun terakhir.

Menyakitkan memang. Fans mungkin akan menerima ketersingkiran klub kesayangan mereka, tapi menerima ketersingkiran dengan cara tragis, bisa jadi para loyalis Los Blancos akan mengenangnya sebagai aib bersejarah. Sekarang, Madrid akan menatap sisa musim dengan angan-angan kosong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here