Home Berita Sepakbola Keunikan El Gran Derbi

Keunikan El Gran Derbi

328
0
El Grand Derbi

Friendly derby? Mungkin tidak juga jika melihat ketatnya pengawalan suporter, tetapi di El Gran Derbi semua orang bisa dikatakan sebagai pemenang.

BERITA TERKINI – Masih mengira jika duel antara Real Madrid dan Barcelona yang dibalut judul Clasico adalah satu-satunya pertarungan panas di Spanyol? Sebaiknya buang jauh-jauh pemikiran tersebut karena masih banyak duel dan rivalitas yang layak untuk disimak dari LaLiga Spanyol.

Salah satunya adalah pertarungan antara Sevilla FC dan Real Betis yang bertajuk El Gran Derbi. Dua tim dari Seville yang memperebutkan status terbaik di Andalusia. Tensi pertandingan ini tetap tinggi bahkan ketika mereka sama sekali tidak sedang beredar di jalur juara.

Rivalitas kedua tim sudah berlangsung sejak 1909, tidak lama setelah Real Betis berdiri pada 1907. Sayang, laga yang berlangsung tepat di hari Valentine tersebut telah hilang dari sejarah dan menjadi misteri hingga kini.

Baru pada 1915 duel resmi pertama El Gran Derbi tercatat. Ketika itu Beticos berhasil meraih kemenangan 1-0 atas Sevilla berkat gol Alberto Henke. Kemenangan yang berbuah trofi ini berbuntut pesta dan tim memamerkan trofi di sepanjang jalanan kota.

Real Madrid dan Barcelona yang selama ini dianggap sebagai penguasa sepakbola Spanyol dan memiliki basis fans di segala penjuru dunia secara virtual tidak eksis di Seville. Hanya ada dua pilihan di kota ini yaitu Merah (Sevilla) dan Hijau (Real Betis).

El Gran Derbi bahkan bisa ‘membelah’ keluarga. Bukan pemandangan yang jarang pada satu keluarga di mana ayahnya mendukung Real Betis sementara sang anak lebih memilih Sevilla.

“Saya Betis, hijau adalah warna yang selalu saya perkenalkan pada anak-anak saya. Semuanya bernuansa hijau mulai dari pakaian, buku, tempat pensil, tas dan segalanya harus berbau hijau,” ujar Julio Jimenez Heras.

Sebuah hal yang wajar bukan? Penuturan direktur komunikasi Real Betis tersebut sudah selaras dengan tulisan besar yang terpampang di Benito Villamarin: De padres a hijos, de abuelos a nietos, una pasion llamada BETIS, yang berarti Dari ayah ke anak, dari kakek ke cucu, satu semangat bernama BETIS.

Tetapi ketika Goal berkunjung ke Pena Sevillista El Relente, sebuah kelompok suporter resmi Sevilla, Guillermo Jimenez Balleste sang presiden memberikan pengakuan mengejutkan.

“Saya Sevilla, tetapi dua anak saya Real Betis,” tuturnya sambil tersenyum dan mengangkat bahu.

Jika terbiasa dengan kultur sepakbola di Indonesia, fakta di atas memang sulit dipercaya. Mungkin ada, tetapi sangat jarang jika terkait dengan dukungan terhadap tim lokal.

Di tempat yang sama Goal juga bertemu dengan salah satu suporter Sevilla lainnya yang mengatakan: “Ibu saya Betis, tetapi saya Merah. Banyak juga kawan saya yang mendukung Betis tetapi hal itu tidak lantas membuat saya membenci mereka. Inti dari pertandingan nanti adalah menang dan damai.”

‘Friendly’ Derbi? Tidak ada penolakan dari Guillermo soal anggapan ini namun hal tersebut tidak mengurangi gengsi yang memperebutkan status klub terbaik di Andalusia.

Tensi panas pertandingan sudah bisa dirasakan Goal ketika masih berada di Pena Sevillista Al Relente.

Beberapa jam sebelum kick-off para anggota fans club ini sudah membanjiri markas mereka untuk bercengkrama bersama kawan sambil menikmati segelas bir atau minuman ringan lainnya. Setiap Goal mendapat kesempatan berbincang, mereka tidak henti mengagungkan tim kebanggaan.

Ketika asik berbicara, Goal dikagetkan oleh siulan keras dan teriakan bernada ejekan. Usut punya usut, ternyata rombongan fans Real Betis sedang bergerak di jalan mengarah ke stadion dengan pengawalan ketat dari petugas kepolisian.

Mereka berjalan bersama-sama dalam sebuah grup yang solid, sementara di pinggir jalan berdiri ribuan fans Sevilla. Tidak ada insiden berarti, fans Betis dengan mulus melangkahkan kaki ke stadion sementara loyalis Sevilla kembali bercengkrama sambil menunggu pertandingan dimulai.

Petugas kepolisian memberikan pengawalan ketat di sepanjang perjalanan fans menuju stadion. Tidak di situ saja, helikopter terus berputar-putar di udara memantau situasi sebagai salah satu upaya pencegahan terjadinya gesekan kedua suporter yang tentunya tidak diinginkan.

Melihat bagaimana sigapnya dan seriusnya petugas melakukan pengawalan, anggapan friendly derbi atau derbi yang bersahabat bisa dengan cepat dihapus dari pikiran.

30 menit sebelum kick-off Goal bergerak menuju stadion yang sudah menjadi lautan merah. Wajar, Sevilla adalah tuan rumah sementara Real Betis hanya mendapat jatah tiket sebanyak 700 lembar saja.

Memasuki tribun stadion, atmosfer rivalitas langsung terasa, fans Betis memadati area khusus suporter tandang sementara sisanya dipadati oleh loyalis Sevilla. Tidak ada tempat duduk tersisa, tiket pertadingan di stadion yang berkapasitas 45.500 ini ludes terjual.

Panji-panji klub dikibarkan oleh kedua kubu. Gelak tawa, keluh-kesah dan chants-chants dukungan serta ejekan menjadi pemandangan biasa pada sebuah pertandingan panas seperti ini mengiringi duel-duel keras para pemain di atas lapangan.

Pada akhirnya kubu tamu harus tertunduk lesu. Setelah melalui pertarungan yang menguras energi dan mental, mereka harus menerima kenyataan melihat tim tuan rumah merayakan pesta kemenangan 3-2.

Setelah pertandingan suporter kedua tim keluar meninggalkan stadion dengan tertib, tidak ada kejadian apapun yang masuk kategori memalukan. Bahkan fans yang mengenakan baju dengan warna berbeda yang jadi ciri perbedaan dukungan bisa melintas tanpa gangguan.

Menyikapi situasi indah seperti itu sebenarnya bisa dikatakan sepakbola, suporter dan semua orang yang terlibat di dalam pertandingan sebagai pemenangnya. Memang demikian seharusnya sepakbola dinikmati tanpa rasa kebencian dan kekhawatiran berlebih, persis seperti yang baru saja diperlihatkan dan dicontohkan oleh El Gran Derbi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here