Home Berita Sepakbola Letupan Wakil Inggris di Liga Champions

Letupan Wakil Inggris di Liga Champions

581
0
Liverpool FC

Separuh dari delapan perempat-finalis Liga Champions 2018/19 diisi Wakil Inggris, peluang merepetisi kejayaan di era 2000-an sangat mungkin terjadi.

BERITA TERKINI – Butuh waktu hingga satu dekade bagi para duta Inggris untuk menancapkan kembali hegemoni mereka di kancah Liga Champions.

Liverpool menjadi tim terakhir yang melengkapi tiga kontestan asal Negeri Ratu Elisabeth, yang lebih dulu melenggang ke babak perempat-final, setelah memulangkan Bayern Munich dengan skor agregat 3-1.

Tottenham Hotspur dan Manchester United duluan menapaki fase delapan besar pada tengah pekan lalu. Tim pertama dengan gagah perkasa menendang Borussia Dortmund dengan skor agregat 4-0, sementara tim kedua melakukan comeback epik dari yang tadinya dikalahkan Paris Saint-Germain 2-0 lalu memutar situasi menjadi 3-1.

Sepekan kemudian, Manchester City mendemonstrasikan penampilan militan mereka dengan meluluhlantakkan Schalke 7-0 untuk melengkapi hasil agregat menjadi 10-3.

Akhirnya, separuh dari delapan slot yang tersedia di fase quarter-finals diinvasi oleh tim-tim Inggris. Mereka semua akan baku sikut dengan para raksasa Eropa lainnya seperti Barcelona, Juventus, Ajax dan Porto. Kali terakhir Inggris mengirim empat timnya mentas di babak delapan besar pada musim 2008/09.

Perjuangan tim-tim The Black Country untuk kembali menguasai pentas tertinggi antarklub Eropa ini tidaklah mudah. Dalam rentang satu dasawarsa, mereka bekerja keras untuk terus mendobrak ranking koefisien UEFA.

Bahkan, Liga Primer sempat bak hilang ditelan bumi di belantika sepakbola Eropa ketika musim 2012/13, di mana kala itu tak satu pun utusan Inggris bisa unjuk gigi di delapan besar. Di musim itu pula kita melihat bagaimana berkuasanya tim dari Bundesliga dengan menciptakan all-German final antara Bayern Munich dan Borussia Dortmund.

Bila dihitung selama sepuluh tahun, paling banter Inggris mendelegasikan dua wakilnya di babak perempat-final, yakni sebanyak tiga kali di musim 2009/10, 2010/11 dan 2017/19. Selebihnya, hanya satu tim yang bisa berlaga di fase itu pada edisi 2011/12, 2015/16 dan 2016/17.

Pernah nihil? Pernah! Tim-tim Inggris angkat bendera putih lebih dini setelah kandas di babak perdelapan-final, yang terjadi pada dua edisi: musim 2012/13 –saat terjadi all-German final– dan 2014/15.

Chelsea di bawah pimpinan caretaker Roberto Di Matteo sempat mengejutkan di musim 2011/12, ketika mereka menendang Barcelona dan Bayern Munich untuk merebut sabuk juara, namun setelahnya, Inggris hanya berhasil mengirim satu-dua tim atau bahkan tidak ada sama sekali di etape quarter-finals.

Fakta di atas menggambarkan dalam sedekade ke belakang, para kontestan dari negara berbasis kerajaan ini tak bertaji. Tak mengherankan pula bila kemudian ranking koefisien Inggris di UEFA pernah disalip oleh Serie A Italia pada Oktober 2018.

Para pecandu Liga Primer mungkin merindukan era 2000-an, ketika Inggris tak jarang menampilkan tiga sampai empat tim di babak delapan besar. Para raksasa Inggris macam Liverpool dan Manchester United bergantian masuk final, bahkan keluar sebagai kampiun.

Siapa yang tak ingat malam magis di Istanbul? Jangan abaikan pula musim 2007/08 ketika tersaji all-English final antara Manchester United dan Chelsea, masa-masa awal predikat pemain terbaik dunia menyemat pada diri Cristiano Ronaldo.

Ah… Lupakan nostalgia kejayaan masa lalu.

Perlahan-lahan, toh Liga Primer mulai bangun dari tidurnya. Musim lalu, Liverpool bak oase ketika mereka mampu menembus final kendati pada akhirnya keluar sebagai runner-up lantaran kalah dari Real Madrid.

Selepas perhelatan UCL pun kita dipertontonkan performa memukau timnas Inggris, yang begitu spartan di Piala Dunia 2018 hingga mampu keluar sebagai semi-finalis di tengah keraguan berbagai kalangan.

Setidaknya, dalam setahun terakhir, menandakan persepakbolaan Inggris sedikit demi sedikit kembali ke treknya, dan harapan untuk melihat kembali tim-tim seperti Manchester United, Liverpool atau bahkan Manchester City berdiri di podium juara bukanlah kemustahilan.

“Ini bagus bagi sepakbola Inggris, inilah yang kalian semua inginkan,” ucap gelandang veteran Inggris James Milner kepada BT Sport selepas membawa Liverpool melenggang ke perempat-final musim ini.

Bila di musim 2008/09 Inggris punya Chelsea, Arsenal, Manchester United dan Liverpool, musim ini dua tim pertama digantikan Manchester City dan Tottenham Hotspur.

Bila sepuluh tahun lalu tiga tim sukses merangsek ke semi-final dan satu melaju ke final, tidak tabu mengatakan skenario serupa bisa terulang di musim ini, atau bahkan ada yang keluar sebagai kampiun. Terasa cocoklogi memang. Namun, meminjam frasa klise “dalam sepakbola apa pun bisa terjadi”, para duta Inggris punya peluang besar menggelar pesta pora Mei mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here