Home Berita Sepakbola Liverpool Jual Pemain Terbaik Sembari Berjaya Di Liga Champions

Liverpool Jual Pemain Terbaik Sembari Berjaya Di Liga Champions

282
0
Liverpool

Kepergian Coutinho pada Januari 2018 tampak akan melemahkan Liverpool, tapi nyatanya itu malah membuat mereka makin kuat.

BERITA TERKINIJurgen Klopp mungkin belum tahu apa-apa mengenai ‘Teori Ewing’ sebelum menjual Philippe Coutinho ke Barcelona pada awal 2018. Namun, 18 bulan setelah kepergian sang playmaker dari Anfield, Klopp secara tidak sengaja membuktikan betapa akuratnya teori tersebut.

Teori tersebut merupakan pemahaman populer dalam olahraga Amerika Serikat. Teori Ewing pada dasarnya berpendapat bahwa sebuah tim olahraga benar-benar dapat tampil jauh lebih baik tanpa pemain bintang mereka.

Mantan pemain NBA Patrick Ewing menjadi inspirasi di balik gagasan itu, ketika New York Knicks pada 1990-an menikmati lebih banyak kesuksesan di lapangan saat pemain yang pernah 11 kali masuk tim all-star NBA itu absen.

Di dunia sepakbola, mungkin sekarang The Reds menganggap Coutinho sebagai Ewing versi mereka, mengingat pasukan Klopp telah melakukan banyak hal yang lebih besar dan lebih baik sejak menjual pemain Brasil itu ke Blaugrana pada Januari 2018.

Dengan penampilan berturut-turut di final Liga Champions, dan catatan rekor poin klub di Liga Primer, Liverpool telah berkembang pesat tanpa sang gelandang serang berbakat. Jadi, bagaimana mereka melakukannya?

Pertama dan paling utama, Liverpool melakukan apa yang harus dilakukan setiap klub saat ini, yaitu mencoba mengambil setiap kemungkinan keuntungan dari klub yang tertarik terhadap pemain mereka. Dalam kasus ini, The Reds berhasil mengantongi £125 juta dari Barca, sekaligus menjadikan Coutinho pemain termahal ketiga sepanjang masa.

Ketika publik Anfield berduka karena harus rela kembali melepas pemain idolanya ke Camp Nou, Klopp dan stafnya malah tersenyum karena mereka tahu bagaimana penjualan satu pemain bintang dapat mengubah Liverpool secara keseluruhan.

Baca Juga:  Barcelona FC Maju ke Final Copa Del Rey 2018/2019

Setelah menyegel servis Virgil Van Dijk dengan jumlah uang besar beberapa hari sebelum kepergian Coutinho saat itu, kas transfer The Reds dengan cepat terisi ulang dan dalam beberapa bulan kemudian memungkinkan Klopp mencari solusi untuk menutup jarak 25 poin antara timnya dengan Manchester City di akhir musim.

Setelah melihat performa menyeramkan Loris Karius dalam kekalahan dari Real Madrid di final Liga Champions, penjaga gawang baru secara tidak mengejutkan jadi prioritas utama. Manajer asal Jerman itu bergerak cepat untuk mendatangkan kiper AS Roma Alisson Becker dengan uang penjualan Coutinho yang membuat pemecahan rekor transfer £64 juta untuk seorang kiper terlihat masuk akal.

Klopp kemudian mendatangkan gelandang serbaguna AS Monaco Fabinho dan Xherdan Shaqiri dari Stoke City yang baru saja terdegradasi. Para pemain baru ini menambah kedalaman skuad sehingga Liverpool sanggup memaksa City terlibat dalam persaingan titel Liga Primer yang epik, sementara pada saat yang sama kembali mencapai final Liga Champions.

Bukan cuma membuat Liverpool bisa belanja besar di bursa transfer, kepergian Coutinho juga memungkinkan tiga pemain yang sudah ada di klub untuk membentuk trisula paling mematikan di sepakbola dunia saat ini.

Tidak perlu bingung lagi mencari tahu posisi terbaik Coutinho di tim, Klopp kemudian hanya mempersilakan Mohamed Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mane untuk melakukan hal kesenangan mereka, yaitu melakukan kombinasi secara cemerlang untuk mencetak gol. Meski ketiga pemain tersebut memang sudah tampil mengesankan saat Coutinho masih berada di dalam skuad, barulah setelah Coutinho keluar mereka mampu membentuk triumvirat yang benar-benar tak terhentikan.

Memang, setiap kali sebuah tim memiliki bintang yang sanggup diandalkan, mereka bisa jadi terlalu bergantung kepadanya, sesuatu yang menjadi catatan Klopp tak lama setelah menjual Coutinho.

Baca Juga:  Alex Ferguson Akan Latih Manchester United Lagi

“Itu semacam solusi bagi kami untuk memberinya [Coutinho] bola,” mantan pelatih Borussia Dortmund itu mengakui. “Kami tidak perlu mencari [penggantinya] sekarang. Itu bisa membuat kami menjadi lebih tidak terduga”

Itu ternyata juga membuat Liverpool jadi lebih efektif, dan lebih sukses, karena hasil mereka selama 18 bulan terakhir telah membuktikan hal tersebut. Coutinho sebelumnya dianggap oleh banyak orang sebagai bagian integral dari strategi Klopp. Simaklah torehan 41 gol dan 37 assist Coutinho dalam 152 penampilannya bersama The Reds di Liga Primer.

Namun kebangkitan Liverpool sejak kepergiannya membuktikan bahwa tidak ada pemain yang tidak tersentuh. Teori Ewing, atau mungkin Teori Coutinho seperti yang bisa disebut Klopp sekarang, adalah salah satu yang bisa diikuti oleh sejumlah klub Liga Primer dalam beberapa bulan mendatang.

Mulai dari kehilangan Eden Hazard yang tengah membayangi Chelsea, hingga desas-desus yang terus berlanjut seputar masa depan Paul Pogba di Manchester United. Banyak tim papan atas bisa tergoda oleh gagasan bahwa mereka bisa bersinar lebih terang meski tanpa pemain bintang.

Selain menghasilkan uang dalam jumlah besar yang bisa diinvestasikan dengan cerdik untuk area lain dalam skuad, kepergian mereka dapat memberi lebih banyak keseimbangan bagi tim yang telah berjuang mendapat konsistensi selama beberapa musim terakhir.

Bagaimanapun, seperti yang telah ditunjukkan oleh kasus Coutinho, Klopp tidak melemahkan tim dengan menjual pemain terbaiknya, dia justru membuatnya jadi lebih kuat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here