Home Berita Sepakbola Mentalitas Manchester City Tidak Dapat Diremehkan

Mentalitas Manchester City Tidak Dapat Diremehkan

193
0
Manchester City

Setelah merajai pentas domestik, kini yang perlu dilakukan Manchester City adalah membawa mentalitas juara mereka ke kancah Eropa.

BERITA TERKINI – “Menang memecahkan segalanya.”

Ucapan terkenal dari pegolf top dunia, Tiger Woods tersebut benar adanya. Itu tercermin dari perjalanan Manchester City sepanjang musim 2018/19 ini sampai pada akhirnya mereka keluar sebagai juara.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Liga Primer Inggris kubu Manchester biru mampu mempertahankan gelar juara, yang mereka catatkan dalam musim ketiga Pep Guardiola menukangi The Citizens.

Menilik gaya permainan City pada musim ini, sebenarnya terlihat mulai ada sedikit perubahan dengan tidak serta merta memainkan penguasaan bola dan pola atraktif yang membuahkan trofi Liga Primer musim 2017/18 lalu, saat Guardiola membawa pasukannya memecahkan rekor poin tertinggi (100) dan juga produktivitas gol (106).

Kini sang juru taktik asal Spanyol tak lagi ragu untuk mengedepankan hasil akhir ketimbang sekadar menampilkan permainan menghibur. Sejak awal bulan lalu, tercatat ada tiga dari total tujuh laga yang dilalui City dengan hanya sekadar menang tipis 1-0. Ketiganya diraih dengan melewati pertarungan mental.

Misalnya saat menjamu Tottenham Hotspur pada 20 April lalu, laga ini datang tak berselang lama setelah mereka tersingkir secara dramatis dari lawan yang sama di perempat-final Liga Champions. Wajib menang demi menjaga peluang juara liga domestik tetap terbuka, City sukses mengunci kemenangan berkat gol tunggal wonderkid Phil Foden.

Lalu delapan hari berselang kala bertandang ke markas Burnley. Menghadapi pola permainan tuan rumah yang sangat defensif, City membutuhkan gol vital Sergio Aguero di babak kedua yang harus ditentukan melalui Teknologi Gawang (GLT).

Yang terakhir saat menjamu Leicester. Ketika itu mereka memasuki fase yang sangat krusial dan raihan tiga poin akan menentukan titik balik mereka dalam persaingan ketat dengan Liverpool menuju tangga juara. Sempat kewalahan membongkar pertahanan lawan, akhirnya momen ‘ajaib’ muncul kala Vincent Kompany meluncurkan tembakan roket yang menghujam gawang Leicester. Aksi sang kapten tersebut menjadi penentu langkah City untuk bisa menenentukan nasib sendiri pada pekan terakhir lawan Brighton and Hove Albion.

Dan bertandang ke Brighton, mentalitas juara City kembali mendapat ujian. Sebenarnya mereka hanya perlu fokus meraih kemenangan tanpa memedulikan hasil Liverpool, yang setia menguntit dengan selisih satu poin, namun yang terjadi pada Minggu (12/5), City secara mengejutkan tertinggal lewat gol Glenn Murray dan di saat yang hampir bersamaan Sadio Mane membuka keunggulan Liverpool. Seandainya keadaan itu bertahan sampai akhir, dipastikan trofi melayang ke Anfield.

Beruntung para penggawa City tidak panik dan justru mereka sigap dalam memberikan respons cepat. Kurang dari semenit, Sergio Aguero menyamakan kedudukan sebelum kemudian sundulan Aymeric Laporte meredakan ketegangan City di babak pertama. Dalam posisi unggul, City bersikap layaknya tim juara di babak kedua. Mereka tetap tenang mengatur irama hingga akhirnya mengunci kemenangan sekaligus mempertahankan titel juara berkat tambahan sepasang gol Riyad Mahrez dan Ilkay Gundogan.

“Mempertahankan lebih sulit daripada meraih.” Pepatah tersebut telah dibuktikan oleh Guardiola bersama City tahun ini. Di tengah tekanan dari kebangkitan masif Liverpool yang semakin jauh dari kata inkonsistensi, City masih tetap mampu lebih unggul dengan bekal mental juara yang sudah dipupuk sejak musim debut Guardiola pada 2016/17 lalu, kala sempat mendapat cibiran karena gaya tiki-taka yang sukses membawa Barcelona dan Bayern Munich menguasai La Liga dan Bundesliga dianggap tidak cocok dengan iklim sepakbola Inggris dan berujung pada raihan nirgelar.

City sekarang sudah punya koleksi empat trofi Liga Primer dalam delapan musim terakhir. Jika mampu memenangkan Piala FA pekan depan saat bertemu Watford di final, maka mereka akan menuntaskan treble domestik setelah terlebih dahulu menyabet Piala Liga pada Februari lalu.

Di kancah lokal, City sudah naik level menjadi tim yang konsisten menantang gelar juara. Selanjutnya yang perlu mereka lakukan adalah menularkan mentalitas juara ‘bukan kaleng-kaleng’ — istilah yang populer di dunia maya untuk menggambarkan suatu kualitas — ke pentas Eropa dengan memenangkan Liga Champions yang masih menjadi ambisi terbesar mereka sejak investasi besar-besaran yang dilakukan Abu Dhabi Group pada 2008 silam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here