Home Sepakbola Real Madrid Justru Lebih Bahagia Tanpa Ronaldo

Real Madrid Justru Lebih Bahagia Tanpa Ronaldo

46
0
Real Madrid Justru Lebih Bahagia Tanpa Ronaldo
Marcelo Vieira

Ada kemurungan namun juga harapan baru yang mengiringi Real Madrid dalam kehidupan mereka sepeninggal Cristiano Ronaldo.

BERITA TERKINI – Ada sebuah guyonan di kalangan fans Real Madrid. Kini Cristiano Ronaldo telah pergi, mereka akhirnya bisa berkata jujur bahwa Lionel Messi adalah pemain terbaik di dunia.

Itulah salah satu anekdot yang mengiringi kepergian CR7 ke Juventus, namun guyonan tersebut bukannya tanpa dasar. Tentu saja Cristiano tetaplah nomor satu bagi fans Los Blancos. Titik. Tapi berhubung sekarang ia telah pergi, maka skenarionya juga berubah.

Untuk memahami apa yang telah dan akan terjadi di Real Madrid sepeninggal Ronaldo, kita harus mundur ke belakang untuk menengok situasi di klub ibu kota Spanyol itu saat sang megabintang masih dalam masa edarnya.

Lima tahun lalu, seorang legenda Real Madrid — saya tidak perlu menyebut namanya — menceritakan kepada saya, bahwa tidak akan ada air mata yang menetes ketika suatu hari nanti dia pergi. Ketika itu, Ronaldo berada dalam puncak performanya.

Faktanya adalah, ada semacam kesan bahwa Cristiano adalah prajurit upahan yang cuma bertugas mencetak gol. Yang mengkhawatirkan, Cristiano juga memberi impresi bahwa dirinya sama besarnya dengan klub. Pandangan semacam ini tentu saja tidak dapat diterima oleh semua pihak.

Real Madrid Justru Lebih Bahagia Tanpa Ronaldo
Cristiano Ronaldo dengan seragam Juventus.

Di era Jose Mourinho (2010-2013), banyak rekan setim Ronaldo yang diminta untuk memujinya di depan publik. Tuntutan semacam ini tidak pernah menciptakan ruang ganti yang harmonis, karena hanya menekankan pentingnya kontribusi seorang pemain.

Satu-satunya momen yang membuat Ronaldo mendapat respek dari rekannya adalah saat ia berani menentang otoritas Mourinho. Ia mulai dipandang sebagai salah satu sosok pemimpin di dalam tim, seperti Sergio Ramos.

Celakanya, perilaku Ronaldo yang bak diva ini justru sering dimaklumi dengan kalimat seperti, “Well, Anda tahu sendiri seperti apa dirinya.” Madrid seperti telah membuat pakta Faustian (Faustian bargain), yang mengizinkan seorang pemain bersikap individualistis asalkan tetap tampil luar biasa.

Fakta bahwa rekan-rekannya menerima tingkah lakunya bukan berarti mereka menyukainya. Ronaldo bukanlah sosok paling populer di ruang ganti Madrid, meski ia bersahabat dengan Marcelo. Dengan pemain lain, yang terjadi hanylaha seperti sebuah hubungan bisnis.

Ketika era Ronaldo di Madrid berakhir — menyusul penolakan Florentino Perez untuk memberinya kontrak baru yang lebih mewah — pemenang lima kali Ballon d’Or itu diwajibkan meneken surat yang menyatakan bahwa dirinyalah yang ingin pindah ke Juventus. Sampai di sini bisa dipahami mengapa Ronaldo merasa tidak butuh laga perpisahan di Madrid. Selain itu juga karena ia tidak ingin berbagi panggung dengan Perez.

Lantas, seperti apa masa depan Real Madrid?

Setelah kepergian Ronaldo, Madrid gagal mendatangkan seorang Galactico baru, meski sebetulnya mereka sudah mencoba. Pertama, mereka membujuk Kylian Mbappe ke Santiago Bernabeu, lalu beralih ke Neymar. Dalam kedua upaya itu, PSG langsung menolaknya pada kesempatan pertama.

Gagal merekrut seorang Galactico, satu-satunya opsi adalah menggelontorkan uang untuk pemain yang ingin bergabung, misalnya striker Bayern Munich Robert Lewandowski, atau memilih berhemat dan berinvestasi untuk menambah kedalaman skuat.

Tapi, banyak figur kunci di klub yang sepakat bahwa tidak ada gunanya membelanjakan banyak uang untuk pemain yang tidak lebih baik dari yang sudah ada di skuat. Inilah kebijakan transfer Madrid dalam beberapa tahun terakhir, dengan pembelian Galactico terakhir mereka terjadi pada 2014, yakni James Rodriguez. Real tentu saja adalah klub kaya, tapi jangan lupa bahwa mereka juga terbelenggu utang yang diyakini mencapai €600 juta.

Real Madrid Justru Lebih Bahagia Tanpa Ronaldo
Karim Benzema dan Gareth Bale

Kepergian Ronaldo lantas membuka jalan buat Karim Benzema dan Gareth Bale untuk maju ke depan panggung, serta mengakselerasi perkembangan Marco Asensio. Sejauh ini, segalanya terasa mulus. Semua pemain seperti menyambut momen ini. Real Madrid bermain sebagai sebuah tim yang lebih kompak: penguasaan bola kian menonjol dan makin kolektif saat menekan lawan.

Musim lalu, Madrid menjalani start jeblok, cuma meraup tujuh poin dari lima laga pertama. Musim ini, mereka masih mempertahankan rekor 100 persen setelah menjalani tiga laga La Liga yang dibarengi surplus delapan gol.

Bale masih bertahan di puncak performa sejak akhir musim lalu dan kini sudah membikin sepuluh gol dari sepuluh laga terakhir. Sementara itu, Asensio berhasil memenangi tiga penalti sejak awal musim. Pemain 22 tahun itu bisa menembus 20 gol di musim ini dan berada di jalur yang benar untuk menjadi calon pemain terbaik di dunia.

Benzema sempat mencetak gol ala Ronaldo pada pekan lalu dan pergerakannya di lapangan masih fantastis. Musim lalu Benz cuma membikin lima gol di liga, tapi kini ia sudah mengoleksi empat. Striker Prancis ini juga menikmati permainan dominan Madrid, karena ia memang suka terlibat dalam proses kreatif di lapangan.

Di sepertiga akhir lapangan, Madrid punya sejumlah opsi lain, terutama jika menilik eksplosivitas Dani Carvajal dan Marcelo di sektor sayap. Memadukan seluruh senjata itu dengan penguasaan bola, permainan high pressing, dan umpan diagonal akurat dari Sergio Ramos, Madrid tampak memiliki lini ofensif yang amat komplet.

Di pos penjaga gawang, Madrid kini juga lebih solid dengan kehadiran kiper terbaik Piala Dunia Thibaut Courtois, yang akan bersaing sehat dengan kiper terbaik UEFA Keylor Navas.

Berbicara soal Eropa, kita kembali membahas Ronaldo yang pekan lalu tidak terpilih menjadi pemain terbaik UEFA baru-baru ini. Penghargaan ini justru diraih oleh eks rekan setimnya di Madrid, Luka Modric.

Saya berada di acara malam penghargaan UEFA dan menginap di hotel yang sama dengan Ronaldo. Setengah jam sebelum acara dimulai, rombongan Ronaldo menghilang seiring keputusannya untuk tidak menghadiri gala itu setelah mengetahui dirinya kalah.

Kepergiannya tentu sungguh disayangkan karena Florentino Perez sudah menantinya. Banyak yang berharap, terutama media, Perez dan Ronaldo berada di sana dan saling berpelukan.

Tak berselang lama setelah insiden itu, Ronaldo kemudian memberikan pernyataan yang sedikit menyinggung eks klubnya. Ia menyebut Juventus adalah rumahnya dan memuji atmosfer kekeluargaan di klub barunya itu. Sebuah sikap yang menegaskan tipikal karakter Ronaldo.

“Juventus adalah klub terbesar di Italia, salah satu yang terbaik di dunia. Jadi ini adalah keputusan mudah. Orang-orang di klub ini terasa berbeda, mereka hangat, dan seperti sebuah keluarga. Begitu juga halnya dengan suporter mereka,” katanya kepada JuventusTV.

Namun, seperti apa yang dikatakan Sergio Ramos, Madrid kini sudah tidak perlu menangisi kepergian karakter egois Ronaldo. Sang juara Eropa telah membuka lembaran baru dan sejauh ini segalanya berjalan baik-baik saja tanpa sang topskor sepanjang masa mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here